Maret 15, 2008

Sayangi keluarga …

Apa yang istimewa dari kata-kata diatas itu? Kelihatannya dua kata itu adalah sesuatu yang simpel. Siapa yang tidak sayang keluarga? Akan tetapi pada kenyataannya banyak kejadian yang mengindikasikan betapa menyayangi keluarga bukanlah hal yang sepele dan ternyata mudah sekali terabaikan.

Dua kasus dari Indonesia bisa saya jadikan contoh. Pertama kasus mengenai seorang ibu hamil di makasar yang meninggal karena diduga menderita gizi buruk (saya baca dari sini). Saya memilih untuk tidak ‘membaca’nya dan menghubungkannya dengan isu di tingkat makro: kegagalan pemerintah dalam menangani kemiskinan dan gizi buruk. Saya lebih memilih untuk mencermatinya dari lingkup yang lebih kecil: keluarga. Keluargalah yang mempunyai interaksi lebih banyak sehingga saya anggap lebih paham dengan keadaan si perempuan ini daripada dengan pegawai di dinas kesehatan.

Disini dikisahkan si suami yang seorang penarik becak tidak pernah tahu dengan apa yang selama ini dimakan oleh keluarganya. Si suami juga mengaku terkadang hanya bisa mendapatkan Rp. 10.000,- per hari dan itu dia gunakan untuk membeli ROKOK, sisanya diberikan ke istrinya. Selain itu, sebagai rasa penyesalannya si suami bertekad untuk tidak MINUM (mabuk) lagi. Membaca fakta ini, saya beranggapan bahwa si suami kurang memberi perhatian dan tidak sepenuhnya bertanggung jawab terhadap keluarganya. Kalau tahu sepuluh ribu itu sedikit, mengapa itu juga harus diapakai untuk mabuk dan merokok?

Kasus kedua seorang perempuan di Tangerang yang juga meninggal karena diduga tidak mempunyai uang untuk berobat (bisa dibaca di sini). Di kasus ini si suami yang kuli angkut tidak mengetahui bahwa istrinya menderita sakit. Dia juga tidak mengetahui pemerintah memiliki program untuk membantu orang tidak mampu, seperti program pangan dan kesehatan.

Ketidaktahuan, kurang informasi, ketidak sigapan aparat pemerintah bisa menjadi alternatif jawaban penyebab meninggalnya kedua perempuan ini. Tetapi bisa juga dilihat adanya kurang perhatian dari orang-orang terdekat kedua perempuan ini. Menikah, membentuk keluarga, memiliki anak bagi saya tidak bisa dianggap hal alami saja, sesuatu yang natural, memang sudah sewajarnya seperti itu. Ada sebuah tanggung jawab besar yang harus ditanggung oleh dua orang yang (seharusnya) dewasa, yaitu si istri dan suami. Masalah siapa yang menjadi ‘bread winner’ atau pencari nafkah dan siapa yang mengatur rumah tangga bisa saling tukar fungsi antara istri dan suami. Menurut saya akan lebih bijaksana untuk melihat ke diri sendiri dahulu, sudahkah saya bertanggung jawab terhadap keluarga saya, orang-orang yang seharusnya saya kasihi dan sayangi, sebelum menuding ke pihak lain seperti pemerintah. Kalau saya saja tidak tahu tentang kondisi keluarga saya, bagaimana bisa pihak lain seperti pemerintah (harus) tahu?

Pendapat ini bukan berarti mendukung pemerintah, dan juga masyarakat, bisa lepas tangan dalam menyelesaikan masalah kemiskinan. Kemiskinan bukan sesuatu yang simpel, yang bisa ditangani dalam sekejap juga dianalisa secara sembarangan. Terus terang saya tidak tahu apa resep manjur untuk menangani masalah ini. Lah, saya bukan ahlinya.

Apakah isu tentang menyayangi keluarga hanya milik orang miskin saja?

Ternyata tidak. Masyarakat dan media di Amerika mempunyai pendapat negatif terhadap politisinya yang dianggap tidak menyayangi keluarga. Tentu saja hal ini bisa saya dianggap sebagai komoditas politik dan media, tetapi saya mengangap bahwa nilai tentang keluarga yang harmonis ada di Amerika.

Satu contoh adalah ketika skandal seks Bill Clinton terkuak. Dia harus menunjukkan penyesalan dan permintaan maaf terhadap keluarganya, didepan publik. Kasus terbaru menimpa Gubernur New York, Eliot Spitzer, yang mengundurkan diri setelah diketahui bahwa dia memakai jasa pelacur (bisa di baca di sini). Dia juga mengungkapkan permintaan maafnya terhadap keluarganya di depan publik. Apapun alasan dia melakukan permintaan maafnya ini, tetapi hal ini bisa dibaca sebagai adanya sebuah nilai yang mengatakan bahwa yang dilakukan Spitzer (dan juga Clinton) terhadap keluarga (dan tentu saja istrinya) adalah sesuatu yang salah. Keluarga yang harmonis adalah salah satu hal yang masih dianggap sesuatu yang positif di Amerika. Kampanye para kandidat presiden Amerika seringkali merepresentasikan betapa hangatnya hubungan para kandidat ini dengan keluarga.

Keluarga, orang-orang terdekat yang kadang secara sadar atau tidak terabaikan oleh kita, karena terkadang kita anggap kita sudah memberikan sesuatu yang maksimal untuk mereka. Walaupun faktanya seringkali jauh dari itu. Keluarga juga seringkali kita anggap terdiri dari orang-orang yang ‘harus’ mengerti kita, kesulitan dan masalah kita tanpa kita perduli apakah kita sudah melakukan hal sebaliknya.

Jika bukan kita yang menyanyangi keluarga kita, siapa lagi?

Maret 12, 2008

Frustasi

Dokter yang menangani saya saat ini merasa frustasi karena saya tidak memiliki catatan medis yang memadai. Catatan medis memang merupakan arsip yang sangat membantu bagi para dokter untuk menganalisa pasiennya. Saya mengibaratkan mungkin seperti membuat esai tugas sekolah tanpa adanya buku atau jurnal yang memadai untuk dipergunakan. Seseorang yang terbiasa bekerja dengan fasilitas yang memadai memang terkadang merasa frustasi jika mendadak fasilitas tersebut dihilangkan.

Seorang radiolog yang saya kenal pernah menceritakan apa yang membuatnya frustasi. Dia menyeleseikan pendidikan dibidang medis di salah satu institusi yang cukup baik di salah satu negara yang seringkali disebut maju. Setelah itu dia kembali ke Indonesia dan bergelut dengan masalah-masalah pasiennya yang sebenarnya dia tahu ada jalan keluar yang lebih baik atau yang bisa menyelamatkan nyawa mereka, jika saja ada peralatan yang memadai, atau dana….

Saya membayangkan bagaimana dia menjadi frustasi dengan hal ini. Ilmu-ilmu yang dia kuasai tidak bisa dia terapkan untuk membantu pasiennya.

Saya termasuk orang yang tidak percaya pada ide generalisasi atau penarikan kesimpulan yang terlalu tergesa-gesa, seperti dokter-dokter di luar negeri mempunyai mutu yang lebih baik dari Indonesia. Luar negeri mana? Dokter yang mana? Pengalaman saya yang walau masih sangat terbatas menjadi bahan acuan saya.

Ketika berada di London, jari tangan saya pernah sakit. Dugaan saya waktu itu karena memotongnya terlalu pendek, kemudian terkena sabun dan air, dan menjadi luka. Saya pun datang ke Puskesmas dekat kampus, disana saya diminta untuk datang seminggu lagi untuk bertemu dengan ahli virus, karena dokter yang memeriksa saya menduga ini akibat terkena virus. Seminggu kemudian, dokter yang memeriksa saya kembali merujuk saya untuk menemui dokter ahli kulit….sebulan lagi, karena dokternya baru ada sebulan lagi. Karena tidak tahan, maka saya menelpon salah satu dokter di Indonesia yang saya kenal baik, menceritakan masalah saya, dan beliau kemudian menitipkan salep kepada teman saya agar disampaikan ke saya. Dengan salep itu, luka di jari saya sembuh dalam waktu seminggu.

Analisa yang kurang akurat juga pernah dialami beberapa orang yang saya kenal. Seorang teman saya di Jerman tiba-tiba harus menjalani operasi (by-pass) untuk menyelesaikan masalah di jantungnya. Padahal selama ini beliau secara rutin mendatangi dokternya untuk cek kesehatan. Lainnya, seorang kenalan teman baik saya di Inggris meninggal beberapa bulan setelah dinyatakan lolos dari kanker, karena kanker juga. Masih ada lagi beberapa cerita dari teman-teman “native” yang mengomentari tentang pengalaman tidak enak dengan dokter di negaranya sendiri.

Saya menemukan hal-hal yang baik dan tidak baik di beberapa tempat dimana saya pernah tinggal. Di Indonesia keuntungannya adalah saya mempunyai informasi dimana saya bisa menemukan dokter dengan keahlian yang baik atau bahkan sangat baik dibidangnya. Di Jerman saya mengenal seorang Indonesia yang menjadi kepala sebuah rumah sakit daerah disana. Mungkin ini dianggap biasa saja, tapi setahu saya tidak mudah untuk bisa mendapatkan posisi ini.

Meskipun demikian, saya tetap pihatin dengan kondisi para ahli kesehatan di Indonesia. Seorang profesor di bidang kedokteran pernah mengungkapkan keprihatinannya terhadap murid-murid yang diajarnya juga universitas-universitas yang berlomba-lomba membuka jurusan kedokteran karena dipandang menguntungkan. Beliau kecewa dan khawatir karena mutu yang cenderung jauh dari baik, dan para pengajar juga pengelola sekolah yang seakan menutup mata terhadap pentingnya seorang lulusan sekolah medis mempunyai keahlian yang memadai. Dengan kesal beliau menyatakan: bagaimana pasiennya bisa selamat kalau pelajaran dasar seperti anatomi saja tidak becus. Yang lebih memprihatinkan lagi jika orang tua mahasiswa ikut turun tangan dengan cara yang tidak terpuji agar anaknya dapat lulus menjadi dokter.

What a shame!

Februari 12, 2008

Bingung nih…

foto-smansa.jpgBeberapa minggu yang lalu, beberapa teman saya mendiskusikan tentang pendidikan untuk anaknya. Ibu-ibu muda ini mengaku cukup bingung karena banyaknya pilihan yang ditawarkan . Kata teman saya jaman dia dulu sekolah pilihannya adalah sekolah swasta dan negeri. Keduanya menggunakan kurikulum nasional. Kalau saat ini, pilihannya bisa macam-macam, termasuk sekolah yang mengacu ke kurikulum pendidikan dari negara lain seperti Australia, Singapura, Jerman, Amerika, dan entah negara mana lagi.

Kata teman saya: “Bingung nih, abis bedanya jauh antara sekolah dengan kurikulum nasional dan yang make kurikulum luar negri!”

Saya tidak tahu maksudnya, karena sepengetahuan saya setahun yang lalu teman-teman saya orang Jerman juga mengeluhkan kurikulum pendidikan nasionalnya. Malah, sistem untuk pendidikan tinggi (Univesitas), dari S1-S3 nya sedang di rombak besar-besaran.

Demikian pula di Amerika saat ini, sistem pendidikan nasional tidak jarang menjadi isu, dari waktu ke waktu dianggap kurang dan diharapkan untuk di perbaiki oleh pemerintah.

Teman lain mengungkapkan alasan mengapa dia menyekolahkan anaknya di SD dengan kurikulum Australia. Dia ingin jika besar nanti anaknya akan masuk ke perguruan tinggi di Australia.

Saya menggaruk kepala saya. Beberapa teman saya lulusan SD negeri ternyata sukses juga meneruskan sekolah di universitas yang cukup baik di Australia, Inggris, Amerika, dan Jerman. Selain itu saya jadi berfikir, itu baru rencana untuk beberapa tahun yang akan datang, sedangkan saat ini anak tersebut sebenarnya harus berhadapan dengan kenyataan hidup di Indonesia yang tentunya berbeda dengan negara lain. Menurut pendapat pribadi saya, anak usia sekolah dasar alangkah baiknya untuk belajar tentang lingkungan sekitarnya dimana dia sekarang hidup, belajar, mengenal, memahami lingkungan sekitar. Alangkah tidak nyamannya jika anak tersebut merasa asing dengan masyarakatnya sendiri tempat dia berada.

Keasingan ini dialami oleh keponakan saya. Pernah suatu kali dia belajar bersama saya untuk menghadapi ujian kenaikan kelas. Pelajarannya adalah seperti PMP pada jaman saya dulu. Disitu dia disuruh menyebutkan sikap yang baik jika ada teman merayakan hari raya agamanya. Saya mengatakan berdasarkan pengalaman kamu saja biar mudah. Dia menjawab: “Bibi, saya tidak punya teman yang berbeda agama..”
Kaget juga saya mendengarnya, dan memang dia benar. Disekolah semuanya beragama sama, di rumah dia tidak pernah bergaul dengan anak sebayanya di kampung belakang rumahnya. Pulang sekolah jam 2 atau jam 4 sore. Sudah terlihat capek sekali. Selanjutnya dia akan tidur siang atau les jika ada jadwal les.

Saya jadi teringat juga bahwa teman-temannya juga berada di tingkat status sosial yang kurang lebih sama. Pernah dia liburan di Jakarta dan diajak ke Mall oleh adik saya dengan cara naik angkot. Komentarnya?: “Om, aku baru pertama kali ini naik angkot…”dan “Aku tuh sebenernya malu naik angkot om….”. Lah, gaya amat kamu, bibimu dan om-mu ini kemana-mana naik angkot!

Kembali ke masalah sekolah tadi, kata teman saya yang pernah belajar tentang pendidikan dan kurikulum sekolah, kurikulum sekolah suatu negara pada umumnya dibuat sesuai dengan kebutuhan masing-masing negara. Tidak terbayang bagi saya jika saya tinggal di Amerika, kemudian saya ngotot memberi anak saya pendidikan berbasis kurikulum Indonesia, dengan alasan agar dia sudah siap masuk sekolah di Indonesia jika pulang nanti, padahal saat ini dia harus hidup di masyakat dan bersosialisasi dengan teman-teman Amerikanya. Apakah dia tidak merasa ter-alienasi dari lingkungannya? Saya yakin dia akan beradaptasi dengan Indonesia jika dia memang harus tinggal di Indonesia nantinya asalkan dia diajarkan untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya, dimanapun dia berada.

Saya jadi ingat Barack Obama. Dia pernah sekolah di SDN 04 Jakarta (atau di SDN 01 Besuki?) , lulus dari Columbia dan Harvard Law school, dan sekarang menjadi kandidat presiden Amerika…

Sekolah dimana saja sebenarnya baik. Kata teman saya, hati-hati jangan termakan oleh promosi karena pendidikan saat ini menjadi komoditas yang dipasarkan secara gencar. Lebih lanjut dia mengatakan bahwa beberapa orang tua seperti dia yang super sibuk dan hanya mempunyai waktu yang sangat terbatas untuk bersama anaknya mempunyai kecenderungan untuk menggantikan “rasa bersalahnya” karena tidak mempunyai waktu yang cukup untuk menemani anaknya belajar dengan mencarikan sekolah yang mahal dengan berbagai fasilitas yang beragam, karena inilah yang dianggap…..terbaik.

Sayangnya yang mahal tidak selalu yang terbaik….

Gambar kartu pos: Gedung SMA negeri 1 Smg, dipinjam dari sini.

Desember 4, 2007

Katanya karena Saya…

photo-39.jpgHari ini saya dan teman-teman berdiskusi tentang berbagai gerakan keagamaan, salah satunya adalah gerakan modernisme. Kemudian merambat ke issue gender. Akhirnya diskusi ini mengarah kepada topik tentang poligami. Alasan yang di lontarkan oleh teman saya adalah (menurut dia) fakta bahwa jumlah perempuan lebih banyak daripada laki-laki didunia ini.

Saya menanyakan datanya mana dan darimana asalnya. Kalau ini hanya dengar-dengar dari ‘para ahli’ (yang teman saya ini tidak bisa menyebutkan namanya) atau pernah dengar, buat saya argumennya belum kuat. Lebih jauh yang dikatakan perempuan itu adalah perepuan berusia 0 sampai tak terhingga, artinya dari bayi sampai dengan nenek-nenek. Padahal aturan yang dianut oleh banyak masyarakat pada masa sekarang, pernikahan biasanya boleh dilakukan sah secara hukum oleh manusia usia produktif dan anak-anak di banyak masyarakat sangat tidak dianjurkan untuk menikah. Jadi saya bilang sambil bercanda, teman saya boleh saja kalau mau menikahi nenek-nenek, asal jangan anak-anak.

Selanjutnya teman saya berargumen bahwa poligami dilakukan untuk menolong perempuan juga, yaitu para janda. Sebuah argumen yang sudah sering saya dengar. Saya bertanya mengapa untuk menolong para janda maka seorang laki-laki harus menikahinya, dengan berpoligami lagi? Di kampung orang tua saya, para janda baik yang muda atau yang tua sama-sama di bantu secara finansial (seperti beasiswa untuk anak-anak para janda ini, belajar di taman pendidikan Al-Quran secara gratis, termasuk memberi pekerjaan kepada para janda ini) oleh para tetangga; baik para istri maupun suami; yang mempunyai penghasilan lebih baik. Memang kebanyakan dari para ‘dermawan’ ini adalah para Haji dan Hajjah yang umur dan pendapatannya sudah mapan.

Tiba-tiba teman saya ini bertanya apakah jika suami saya ingin mengawini seorang janda untuk menolongnya saya mau di poligami? Saya jawab tidak, saya akan memilih bercerai jika suami saya benar-benar ingin mengawini perempuan lain.

Teman saya langsung mengatakan: kalau begitu kamu menciptakan 1 janda lagi?

Saya….??????

Mengapa bukan suami saya yang menciptakan 1 janda itu?

Saya masih nyengir bingung: saya?

Katanya: Loh kan suamimu tidak ingin menceraikan kamu. Dia tetap ingin kamu menjadi istrinya. Kamu yang minta cerai karena tidak mau di poligami.

Saya tetap bingung…..

Lalu saya mengatakan bahwa saya tidak mau di poligami, saya juga tidak mau mempoliandri suami saya. Jika karena satu dan lain hal kejadian saya menjadi janda saya juga tidak mau mengganggu pacar perempuan lain, lebih-lebih suami perempuan lain. Menurut saya ini fair. Lebih lanjut saya ingin mandiri sehingga orang tidak perlu melihat saya sebagai janda yang menyedihkan sehingga patut dikasihani dan patut di tolong dengan cara dikawini oleh pacar atau suami perempuan lain. Selain itu, saya berusaha juga menghindari menyebarkan kebencian. Karena dengan ‘mengganggu’ hubungan atau rumah tangga orang lain, bukan hanya pasangan itu saja yang terluka, tetapi bisa jadi termasuk keluarga dan keluarga besarnya: anak-anak, orang tua, mertua, dan saudara-saudara dari pasangan yang diganggu hubungannya tersebut.

Saya ingin sekali para perempuan tidak saling menindas. Saya hanya bisa memulainya dari diri saya sendiri.

Gambar kartu pos: Mulia, Siti Musdah, (2004) Islam Menggungat Poligami, Jakarta: Gramedia.

Nopember 27, 2007

Disayang ketika sudah diambil orang…

barongan1.jpgSetelah ‘meminjam’ lagu Rasa Sayange, kali ini Malaysia ‘meminjam’ Reog Ponorogo yang di beri nama baru Barongan. Dipinjam? kok?

Dalam teori tentang kebudayaan dikenal aliran Difusi yang berpendapat bahwa manusia pada dasarnya lebih suka meminjam penemuan-penemuan kebudayaan orang lain di bandingkan dengan menciptakan unsur budayanya sendiri. Lebih lanjut aliran Difusi Jerman-Austria, digawangi antara lain oleh Schmidt dan Gräbner, berpendapat bahwa ada yang disebut sebagai ‘Kulturkreis‘ atau lingkaran kebudayaan. Di wilayah ini terdapat unsur-unsur budaya bersama tertentu (Ihromi, 2006, Antropologi Budaya, hal. 58).

Kesenian, termasuk didalamnya lagu dan tarian, merupakan salah satu unsur kebudayaan (Koentjaraningrat, 2002, Pengantar Antropologi, hal. 203-204). Kasus lagu Rasa Sayange dan Reog Ponorogo; kedua merupakan kesenian, yang merupakan salah satu unsur kebudayaan; tampak cocok sebagai contoh pendapat teori Difusi ini.

Akan tetapi, benarkah Malaysia meminjam keduanya? Saya belum pernah mempelajari kebudayaan yang ada di Malaysia. Letak geografis yang berdekatan antara Indonesia dengan Malaysia memungkinkan adanya kesamaan dalam unsur-unsur kebudayaannya, termasuk kesenian. Untuk itu, alangkah baiknya jika diadakan penelitian lebih jauh tentang hal ini sebelum Indonesia yang merasa ‘kecolongan’ memberikan reaksi keras terhadap kasus ini.

Lebih jauh, kebudayaan bukanlah sesuatu yang stagnan. Kebudayaan berubah seiring dengan perubahan yang ada di masyarakat. Komunikasi dan perpindahan manusia dari satu wilayah kewilayah yang lain memungkinkan terjadinya saling mempengaruhi antara budaya yang satu dengan yang lainnya.

Jangan kaget jika mendengar bahwa Curry dianggap sebagai makanan khas Inggris. Teman saya yang orang India pernah tertawa waktu mendengar bahwa cerita-cerita wayang di Jawa mengambil cerita Mahabaratha juga Ramayana. Bisakah saya mengatakan bahwa keduanya adalah khas Jawa? Saya pernah melihat motif kain yang sangat mirip dengan batik yang kata teman saya merupakan kain khas dari Afrika (sayangnya saya tidak ingat dari daerah dan suku apa).

Kembali ke soal Reog, keponakan saya yang merasa kecolongan berpendapat bahwa kita, orang Indonesia, harus melakukan aksi protes. Ketika saya bertanya apakah dia sudah pernah melihat Reog Ponorogo atau pernah menikmatinya, dia menggeleng. Saya pernah melihatnya secara live duluuuu sekaliiii…. ketika umur saya 6 tahun.

Saya berpendapat Reog Ponorogo, dan kesenian-kesenian lain, tidak akan hilang dari Indonesia kecuali ketika sudah tidak ada lagi orang Indonesia yang ingin memainkan dan menikmatinya.

Gambar kartu pos: Barongan rasa Reog dipinjam dari sini.

Nopember 16, 2007

Ketinggalan Jaman…

photo-38.jpgSaya beberapa kali menanyakan ke teman-teman sekelas ketika membahas suatu topik: apa yang ada di benak kalian jika mendengar kata ‘……’?
Jawabannya selalu menarik buat saya, karena sering kali beragam, terkadang di luar dugaan saya. Tentu saja jawabannya tergantung kepada pengetahuan, pengalaman, dan latar belakang orang-orang yang saya tanya.

Ketika mendengar kata ‘isu-isu perempuan’ yang terlintas di kepala saya adalah tentang persoalan buruh perempuan migran, masalah ketimpangan gender, masalah kekerasan dalam rumah tangga, masalah perempuan dalam media massa, dll, dll, dll.

Membosankan?!

Ternyata saya lupa, ada isu perempuan lainnya: tentang tas-tas ber-merk dan mahal, tentang mode terbaru, tentang produk-produk perawatan wajah dan tubuh yang sedang trend dan bisa di dapatkan di pusat-pusat pertokoan fancy di kota-kota besar, tentang gadget yang sedang digandrungi oleh para perempuan di kota-kota metropolitan, dll,dll…

Oh, suara baru? Saya merasa ‘so yesterday‘, uh!

Gambar kartu pos: bye bye de Beauvoir

Nopember 7, 2007

Lepis, Lefis, Levi’s?…uh!

photo-35.jpgLévi-Strauss? Wah, pasti kelas hari ini akan menarik, membahas tentang celana jeans!

Lalu dosen itu berkata bahwa dia akan membahas Lévi-Strauss bukan Levi Strauss. Bingung…

Lalu diterangkannya tentang Levi Strauss:
Yang ini adalah si penjahit sukses yang produknya terkenal di seantero dunia. Keluarga Levi-Strauss berimigrasi dari Bavaria, Jerman ke Amerika dan meraih impian Amerikanya di San Fransisco.

Kemudian dilanjutkan dengan Lévi-Strauss:
Sedangkan yang ini adalah seorang akademisi yang besar di Perancis dan kemudian sempat hijrah ke Amerika, mengajar di New School, New York. Terkenal karena pemikirannya yang dituangkan dalam bukunya yang berjudul ‘Structural Anthropology’.

Cara pengucapan namanya berbeda, jadi jangan di rancukan satu sama lain, karena ini dua orang yang berbeda, apalagi saat ujian…

Gambar kartu pos: bukan jeans!

Oktober 6, 2007

Basket, so?

photo-33.jpgMembaca komentar Tito di sini, saya jadi ingat obrolan dengan teman-teman sekelas mengenai iklan-iklan yang kita pikir tidak masuk akal beberapa bulan yang lalu. Tentu saja tidak masuk akal untuk kami, mungkin masuk akal untuk orang lain. Salah satu iklan itu adalah iklan deodorant.

Dalam iklan yang kami maksudkan, digambarkan bahwa memiliki ketiak yang basah alias basket (basah ketek) adalah sesuatu yang memalukan. Hal ini saya (dan beberapa teman) anggap sebagai hal yang terlalu mengada-ada. Ada beberapa alasan untuk mendukung argumen ini. Pertama, saya saat ini hidup di Jakarta dan sekitarnya yang mana iklimnya adalah tropis, dengan tingkat humidity yang cukup tinggi. Suhu rata-rata perharinya berkisar pada 30 derajat Celcius keatas. Kedua, saya harus berkegiatan dalam suhu tersebut, termasuk berjalan diudara terbuka, mengejar bis dan angkot yang tidak ada AC nya. Ketiga, saya juga harus berkegiatan di dalam ruangan yang tidak ber-AC. Jadi, meskipun saya selalu memakai deodorant dari produsen yang mencibir orang basket, nyatanya tetap saja saya harus berganti pakaian (biasanya bagian atasnya saja, alias kemejanya) sebelum bekerja agar tidak sakit, karena tidak hanya bagian bawah lengan yang basah, tetapi juga punggungnya.

Saya kurang memahami ide muluk-muluk yang dijual oleh produsen deodorant ini, yaitu mengubah paradigma penghuni daerah tropis untuk malu berkeringat. Seingat saya, ketika saya tinggal dinegara non-tropis dengan 4 musim, pada musim panas orang-orang juga berkeringat. Teman-teman mahasiswa saya baju atau t-shirt nya di bagian bawah lengan dan kadang bagian lain seperti punggung juga basah, terutama setelah mereka berkegiatan di luar ruangan. Saya tidak bertanya apakah mereka merasa risih atau tidak dengan keringat yang menempel di baju mereka, karena menurut saya hal itu biasa, dan mereka saya lihat juga tidak merasa kikuk ketika berkeringat di kampus, juga ketika dikelas. Bahkan saya masih ingat kata seorang teman yang berasal dari Inggris, dia merasa sehat ketika berkeringat.

Menurut pendapat saya yang penting adalah menjaga kebersihan badan. Mandi minimal pagi atau sebelum berkegiatan dan sebelum beristirahat pada malam hari. Memakai pakaian yang bersih dan nyaman dipakai di daerah tropis, sehingga orang disekitar kita tidak terganggu dengan bau dari badan kita. Memakai wewangian jika perlu. Kalau memang situasi dan kondisi disekitar kita mendorong kita untuk berkeringat dan itu memang suatu proses alamiah untuk menstabilkan suhu tubuh, mengapa harus di cegah?

Tetapi tentu saja ada juga segmen yang memang benar-benar bisa membuktikan kehebatan produk ini untuk mencegah ketiak berkeringat. Keluar rumah yang ber AC, langsung naik mobil (di garasi) yang ber AC, turun dari mobil langsung masuk ke tempat tujuan yang juga ber AC. Terkadang suhu pengatur ada di angka 16 derajat Celcius, mirip suhu pada saat musim semi di Eropa. Kalau semua tempat tertutup di beri AC, pantas saja tempat saya berkegiatan yang tidak ber AC menjadi semakin panas…. dan semakin berkeringatlah saya…

Mungkin berkeringat itu dianggap tidak cool, karena milik kelas pekerja seperti saya yang hanya bisa menikmati fasilitas untuk kaum proletar.
Cegahlah ketiak agar tidak berkeringat, dengan cara apapun, karena kalau ketiak basah oleh keringat itu suatu aib yang memalukan!

Gambar kartu pos: obat anti-aib.

Oktober 5, 2007

Wajah kinclong

photo-32.jpgAda 2 buah iklan produk kosmetik versi televisi dari sebuah produsen kosmetik yang membuat saya mengeryitkan dahi. Pertama adalah krim anti penuaan, yang kemasannya berwarna merah. Iklan ini mengusung kalimat: lihat perubahan pada suami anda 7 hari lagi. Scene yang terlihat di layar adalah sepasang manusia, perempuan dan laki-laki, di tempat tidur. Posisi si laki-laki makin lama makin mendekat ke si perempuan, asumsinya setelah memakai produk ini selama 7 hari, maka wajah si perempuan menjadi terlihat lebih terawat (atau muda?) sehingga si laki-laki menjadi sayang karenanya.

Kedua adalah sabun cuci muka penghilang noda bekas jerawat. Kalimat utamanya adalah: bukalah jalan untuk cintamu. Digambarkan seorang perempuan remaja mendadak didekati oleh banyak laki-laki remaja. Asumsinya setelah memakai produk ini, wajahnya menjadi kinclong, sehingga menarik perhatian banyak laki-laki remaja.

Jika memang yang di gambarkan di iklan tersebut benar adanya, saya jadi bertanya-tanya. Apakah memang perempuan hanya layak di hargai sekadar pada penampakan luarnya saja?

Saya berpendapat bahwa walaupun audience, penonton iklan di televisi itu tidak pasif dan tidak mudah di bodohi begitu saja, tetapi tetap saja apa yang di tayangkan oleh televisi paling tidak pernah melintasi kepala penontonnya. Jangka panjangnya, jika iklan dengan isi seperti yang saya gambarkan diatas dianggap sukses mempromosikan produknya, maka iklan sejenis (dengan isi dan ide yang sejenis) ada kemungkinan akan di buat. Ketika di produksi secara berulang-ulang, orang akan terbiasa dengan ide yang diusung: perempuan hanya layak di hargai sebatas penampilan fisiknya saja. Selanjutnya ide ini bukannya tidak mungkin yang melintas di kepala baik para perempuan dan para laki-laki.

Memang itu salah satu kemungkinan yang ada di kepala saya saat ini. Kemungkinan lain pasti tetap ada. Tetapi saya memutuskan untuk tidak akan memakai produk dari produsen yang mempunyai 2 iklan tersebut diatas. Kalau saya membutuhkan produk sejenis, saya memilih untuk penggunakan produk dari produsen lain. Paling tidak saya tidak menambah angka penjualan produsen ini, sehingga tidak mendukung iklan sejenis di produksi lagi.

Saya percaya bahwa hal besar di mulai dari hal yang kecil, dan mulailah dari diri sendiri.

Komentar teman saya: Kamu tidak memakai produk itu karena: “Walaupun pakai, wajahmu tetap tidak akan berubah kinclong… jadi percuma…”

huh!

Gambar kartu pos: Wax mobil, juga membuat kinclong!

September 28, 2007

gen

lisa.jpgTadi malam, secara tidak sengaja saya menonton The Simpsons di sebuah stasiun TV swasta. Saya tidak tahu judul episode kali ini, saya sudah pernah melihatnya, dalam bahasa Jerman. Inti ceritanya tentang kegundahan Lisa yang merasa kemampuan otaknya menurun, dan itu menurut informasi dari kakeknya merupakan akibat dari gen Simpson yang dia warisi. Ternyata kemudian Lisa tidak perlu resah, karena hanya lelaki keturunan Simpson saja yang mempunyai gen pecundang, sedangkan para wanitanya tidak karena sifat ini dibawa oleh kromosom Y. Lisa tentu saja merasa sangat lega dengan fakta ini.

Ada beberapa hal yang memang bisa merupakan bawaan genetis, sehingga dalam satu keluarga bisa ditemukan sifat bawaan. Di keluarga saya ada kecenderungan perempuan tidak sempat merayakan ulang tahunnya yang ke 60. Untuk itu, saya pikir perempuan dikeluarga saya sudah sepantasnya mempunyai rencana yang jelas dengan hidupnya, supaya tidak menyesal karena kehabisan waktu.

Apakah dikeluarga anda ada juga sifat bawaan yang khas?

Gambar kartu pos: Lisa Simpson di pinjam dari sini.

Next Page »