Guru, sebuah profesi; yang sudah umum diketahui; sering disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Walaupun kenyataannya bukan hanya tanda jasa yang tidak diterima, tetapi juga gaji yang layak untuk sekadar hidup berkeluarga.
Tetapi ada seseorang yang saya tahu selalu dengan mantap mengatakan bahwa mengajar adalah hobynya, profesi yang dia cintai, dia jalankan dengan sepenuh hati. Pahlawan? hmmm… dia tertawa, dengan gaya sedikit mengejek. Bukan mengejek profesi guru, tetapi mengejek dirinya sendiri. Gajinya? Setiap bulan akan habis untuk membeli bensin. Senjata makan tuan, ‘eh?
Untuk menutup biaya hidup sehari-hari, dia bekerja sebagai buruh. Semua waktunya dia dedikasikan untuk menjadi buruh, karena jam kerjanya tidak pasti. Pulang pagi, bekerja saat akhir minggu, hari libur nasional, hari libur keagamaan, tidak ada bedanya. Dia mencintai pekerjaannya, tidak pernah dia mengeluh tentang keadaan keuangannya. Keluarga? Saya pikir keluarganya setengah mati untuk memahaminya.
Tiba-tiba kemarin dia mengungkapkan pikirannya untuk mencari tempat bekerja yang baru. Dia tidak akan meninggalkan hobynya mengajar, tetapi ingin menjadi buruh ditempat lain, paling tidak agar dia bisa menabung. Mungkin dia mulai memikirkan masa depan keluarganya atau untuk alasan lain, saya tidak tahu pasti. Hanya saja dia menulis: “Gajiku dimakan inflasi, gak bisa nabung”. Jadi monster itu si inflasi atau tempatmu menjadi buruh itu?
Saya, seperti biasa, tidak terlalu pandai mengeluarkan kata-kata yang bisa membuat orang yang mendengarnya menjadi sedikit terhibur. Saya hanya bisa menulis: “Ya sudah, dipikirkan pelan-pelan”. Setelah itu topik bergulir ke hal lain yang lebih penting, seperti Dian Sastro yang memakai tas Hermes (ingat dibaca ‘ermes’) di Kompas edisi cetak tanggal 26 Januari 2007 di rubrik Muda.
Akan tetapi, pada malam harinya saya tidak bisa tidur, saya masih memikirkan pembicaraan kemarin. Semuanya berputar-putar di kepala saya, termasuk hubungan antara tas Hermes, scarf Sumba, dan Filosofi.
“Bunda, maafkan si Malin yang penakut, pengecut, snob, dan sombong ini,… yang gentar untuk melangkahkan kaki kembali kerumah Bunda….”
Gambar kartu pos (tas Hermes) dipinjam dari sini.
ah, nasib guru dari taun ke taun gak pernah berubah. gaji naik sekian persen, harga barang udah melonjak naik diatas angka itu, bahkan sebelum si guru menikmati kenaikan gajinya
dukung kenaikan gaji guruuuu!!! bukan DPR!!!
für venus: nasib…nasib…gak bisa beli tas hermes…
.
für diditjogja: kalo guru yang dpr gimana?
.
Saya salut sama ibu2 dan bapak2 guru tercinta ini mereka berkerja keras untuk mengajar kita2 sampai kita2 pintar tampa ibu dan bapak guru ini kita bukan lah siapa2 paling jadi orang2 bodoh…
Untuk Bapak RI coba lah perhatikan ibu2 dan bapak2 guru kita ini!.