Sore yang indah, hangat, ditemani secangkir teh dan seorang perempuan yang saya kenal dengan baik. Suasana yang sebenarnya bisa sangat menyenangkan. Hanya saja perempuan didepan saya tampak pucat, dengan mata sembab akibat terlalu banyak menangis dan kurang tidur, dan …. terluka.
Dia mulai bercerita tentang seorang perempuan yang sama sekali asing buatnya yang telah berselingkuh dengan suaminya. Perempuan yang tidak dikenalnya itu bercerai dari suaminya yang telah memberikannya anak dengan alasan laki-laki itu abussive dan terlalu mengekangnya.
Tiba-tiba perempuan yang sedang terluka didepan saya itu melihat lurus kemata saya dan bertanya: apakah perempuan itu tidak mengetahui bahwa dengan berselingkuh dengan suamiku, maka dia juga abuse aku?
Saya tergagap, tidak tahu jawabannya. Saya hanya tahu bahwa setelah perselingkuhan suaminya terkuak, perempuan yang terluka ini harus mengubah semua rencana hidupnya, mengorbankan sebuah cita-cita yang sangat dia inginkan selama hidupnya dimana jalan menuju kesana sudah dia bangun dengan cucuran keringat dan perasan otak selama bertahun-tahun.
Perempuan, apakah kita yang selama ini ternyata menjadi suporter utama dari tindakan kekerasan dalam rumah tangga, dimana sebagian besar korbannya adalah juga perempuan itu sendiri dan anak-anak?
Gambar kartu pos: blank, seperti perempuan didepan saya ini.
6 Komentar
April 26, 2007 pukul 6:05 am
manusia. tak mau terluka, tapi tetap melukai. halah…
apa kabar, biii….??
April 27, 2007 pukul 6:02 am
fuer venus: … asal diri sendiri enak…., semua boleh…
kabar baik jeng…..
Mei 18, 2007 pukul 5:20 pm
aargghhh…! ya, perempuan selalu jadi korban.
Juni 25, 2007 pukul 10:07 am
fuer yati: perempuan juga yang sering mengorbankan perempuan lain, asal dirinya sendiri enak….. aargghhh…
Juli 4, 2007 pukul 6:06 am
perempuan itu kuat! lho… (lho??)
Juli 5, 2007 pukul 3:10 am
fuer sezsy: kuat atau di haruskan menjadi kuat? hehehehe….