Menonton film adalah salah satu kegiatan yang saya sukai. Kadang saya melakukannya saat mengisi waktu luang atau saat bekerja. Tergantung kebutuhan. Meskipun ada tehnologi seperti VCD dan DVD yang membuat orang bisa menonton film dimanapun mereka suka, akan tetapi menonton film di bioskop tetap mempunyai nilai lebih bagi saya. Selain suasana yang dibangun memang untuk menonton, seperti ruangan dengan penerangan yang minim, juga kemungkinan adanya ingatan di saat saya berumur belasan tahun tentang pergi ke bioskop untuk menonton adalah sesuatu yang menyenangkan.
Ketika awal tinggal di Bavaria dan menjadi seorang yang ‘bisu-tuli’ menonton ke bioskop menjadi kegiatan yang saya tinggalkan. Lama kelamaan saya malah mencari film dengan aksen Bavaria untuk saya tonton karena saya merasa menonton film dengan aksen ini mempunyai keunikan tersendiri dibandingkan dengan film-film berbahasa Jerman. Sayangnya tidak banyak film ber-aksen Bavaria yang bisa saya temukan.
Salah satu film yang pernah saya tonton berjudul ‘Wer früher stirb’. Menceritakan tentang seorang anak laki-laki berusia 14 tahun yang merasa bahwa dialah yang meyebabkan ibunya meninggal dunia. Ceritanya tidak terlalu rumit, cenderung lucu, walau kadang terasa getir. Disertai dengan latar belakang desa di Bavaria dengan gambar-gambar pemandangan yang menurut standar mata saya bisa dikatakan indah.
Selain filmnya, bioskop tempat saya menonton film ini juga menarik. Bioskop ini mengingatkan saya pada bioskop jaman dahulu. Pintu masuknya terdapat di sebuah lengkong jalan dekat dengan sebuah Bier Garten milik salah satu pabrik bir ternama dikota ini. Tentu saja tidak ada tempat parkir, dan memang orang-orang cenderung berjalan kaki untuk menuju ke tempat ini. Mobil biasanya di parkir di tempat parkir di pertokoan di pusat kota. Untuk menuju lobi tersedia tangga batu melengkung yang cukup tinggi. Terdapat 3 ruangan untuk menonton dengan 3 judul film yang berbeda. Jika biasanya ruangan-ruangan ini ditandai dengan nomor, ditempat ini tiap ruangan di namai dengan 3 nama ynag berbeda: Metropolis, Casablanca, dan Manhattan. Dulu saya menggira ketiganya merupakan 3 gedung bioskop yang berbeda, ternyata…
Sebenarnya ada satu cineplex di kota kecil ini, tetapi saya dan teman saya kadang berfikir kasihan dengan bioskop-bioskop tua seperti ini. Jika tidak ada lagi yang menonton karena kalah bersaing dengan cineplex maka akan gulung tikar-lah mereka. Tetapi teman saya menginformasikan bahwa film-film indie atau ynag diproduksi oleh perusahaan-perusahaan kecil tidak masuk ke cineplex. Jadi ini menjadi salah satu kelebihan dari bioskop-bioskop tua seperti Metropolis dan teman-temannya ini.
Gambar kartu pos: Neon Metropolis
5 Komentar
September 11, 2007 pukul 3:22 am
di ndeso saya, bioskopnya udah pada gulung tikar, bi. heran juga, padahal cineplex juga belum masuk. ckckck….kasian ya?
September 20, 2007 pukul 6:35 pm
berbahagia mereka yang mempunyai apresiasi seni untuk nonton film..he he salam
September 28, 2007 pukul 6:29 pm
für venus: kalau ada vcd murah, 5 ribu bisa di tonton satu kelurahan, memang lebih ekonomis beli vcd daripada ke bioskop…
.
für iman: berbahagia juga yang bisa tahu caranya membuat film, saya pengen sekali belajar membuat film dokumenter
. salam juga.
Oktober 2, 2007 pukul 2:37 pm
Memang mempunyai kesan tersendiri nonton dibioskop, itu juga salah satu kesenangan saya
sayangnya, bioskop tua disini malah tidak terawat dan cenderung memutar film ’semi’ jaman dulu…
Blog yang antik, salam kenal…
Dapat 1 teman lg dari Jerman
Oktober 5, 2007 pukul 4:28 pm
für jejakkakiku: mungkin memutar film ’semi’ jadoel hitungannya lebih menguntungkan dibandingkan dengan memutar film indie buat bioskop tua di indonesia.
salam kenal juga