Nopember 27, 2007...6:35 pm

Disayang ketika sudah diambil orang…

Lompat ke Komentar

barongan1.jpgSetelah ‘meminjam’ lagu Rasa Sayange, kali ini Malaysia ‘meminjam’ Reog Ponorogo yang di beri nama baru Barongan. Dipinjam? kok?

Dalam teori tentang kebudayaan dikenal aliran Difusi yang berpendapat bahwa manusia pada dasarnya lebih suka meminjam penemuan-penemuan kebudayaan orang lain di bandingkan dengan menciptakan unsur budayanya sendiri. Lebih lanjut aliran Difusi Jerman-Austria, digawangi antara lain oleh Schmidt dan Gräbner, berpendapat bahwa ada yang disebut sebagai ‘Kulturkreis‘ atau lingkaran kebudayaan. Di wilayah ini terdapat unsur-unsur budaya bersama tertentu (Ihromi, 2006, Antropologi Budaya, hal. 58).

Kesenian, termasuk didalamnya lagu dan tarian, merupakan salah satu unsur kebudayaan (Koentjaraningrat, 2002, Pengantar Antropologi, hal. 203-204). Kasus lagu Rasa Sayange dan Reog Ponorogo; kedua merupakan kesenian, yang merupakan salah satu unsur kebudayaan; tampak cocok sebagai contoh pendapat teori Difusi ini.

Akan tetapi, benarkah Malaysia meminjam keduanya? Saya belum pernah mempelajari kebudayaan yang ada di Malaysia. Letak geografis yang berdekatan antara Indonesia dengan Malaysia memungkinkan adanya kesamaan dalam unsur-unsur kebudayaannya, termasuk kesenian. Untuk itu, alangkah baiknya jika diadakan penelitian lebih jauh tentang hal ini sebelum Indonesia yang merasa ‘kecolongan’ memberikan reaksi keras terhadap kasus ini.

Lebih jauh, kebudayaan bukanlah sesuatu yang stagnan. Kebudayaan berubah seiring dengan perubahan yang ada di masyarakat. Komunikasi dan perpindahan manusia dari satu wilayah kewilayah yang lain memungkinkan terjadinya saling mempengaruhi antara budaya yang satu dengan yang lainnya.

Jangan kaget jika mendengar bahwa Curry dianggap sebagai makanan khas Inggris. Teman saya yang orang India pernah tertawa waktu mendengar bahwa cerita-cerita wayang di Jawa mengambil cerita Mahabaratha juga Ramayana. Bisakah saya mengatakan bahwa keduanya adalah khas Jawa? Saya pernah melihat motif kain yang sangat mirip dengan batik yang kata teman saya merupakan kain khas dari Afrika (sayangnya saya tidak ingat dari daerah dan suku apa).

Kembali ke soal Reog, keponakan saya yang merasa kecolongan berpendapat bahwa kita, orang Indonesia, harus melakukan aksi protes. Ketika saya bertanya apakah dia sudah pernah melihat Reog Ponorogo atau pernah menikmatinya, dia menggeleng. Saya pernah melihatnya secara live duluuuu sekaliiii…. ketika umur saya 6 tahun.

Saya berpendapat Reog Ponorogo, dan kesenian-kesenian lain, tidak akan hilang dari Indonesia kecuali ketika sudah tidak ada lagi orang Indonesia yang ingin memainkan dan menikmatinya.

Gambar kartu pos: Barongan rasa Reog dipinjam dari sini.

11 Komentar

  • saya aja surprise ketika mie goreng magelangan yang dulu sering saya nikmati di tempat budhe saya di New York disebut sebagai “pad thai” alias masakan mie khas thailand. ada juga desert dari singkong yang dicampur gula jawa (aku lupa apa nama thailandnya) yang dianggep sebagai masakan khas thailand…

  • o iya, yang 32 tahun itu saya bibi. suamiku mah jauuuuuuh di atasnya. :D thanks buat ucapannya ya.

  • itu jenang kudus jugah mirip sama yokan dr jepang, ato yokan yg mirip jenang kudus yaks? ah mbuh bingung

  • für fitri mohan: Padahal mie nya asalnya dr china trus sampe di magelang jadi mie goreng magelangan, sampe di italy jadi spaghetti :-) .
    ups, betul itu salah mata saya…. :-) . terima kasih juga…
    für aprikot: beda kemasannya aja ya git, kalo yokan dibungkus dengan sophisticated :-) ?

  • wekekekek… manusia aja banyak yang mirip, apalagi produk dari manusia itu sendiri. pasti ada yang mirip, kembar malah… tapi pasti ada perbedaan diantara keduanya…

  • iya, sudahlah gak usah berantem2an sama tetangga ya, bi? hehehe…

  • klo belum diambil orang.. kita blom sadar kalo kita memilikinya

  • für otakiphan: termasuk kembar siam ya… :-) .
    für venus: diketawain atau dikasihani aja, siapa tahu sebenernya tetangga kita itu sangat mengaggumi kita, sehingga perlu copy-paste kepunyaan kita … :-) .
    für funkshit: iya bener….

  • Ya hampir sama jika menilik china dan taiwan…

    Barongsay ada di mana mana, tapi ya masyarakat china ndak marah, soalnya kan yang membawa itu orang orang imigran dari china sono…

    Kan keren tuh besok besok kalo orang orang Indonesia yang imigran menyebarluaskan reog dan dilombakan juga seperti barongsay…hehehe

  • saya sangat heran kenapa pemerintah kita baru memperhatikan kekayaannya kalau uda diambil orang??
    begitu banyak kebudayaan kita telah punah ditenggelamkan oleh zaman akibat kurangnya perhatian dari pemerintah..
    pemerintah malaysia dengan tenangnya mengklaim bahwa itu adalah punyaku, sedangkan kita seperti kebakaran jenggot……
    kenapa baru sekarang mati-matian membela kalau itu adalah kepunyaan kita???
    kenapa tidak dari dulu dijaga baik-baik??

  • Saya fikir sesuatu yang paling bijaksana adalah meneliti apa persamaan barongan dan reog ponorogo. Silakan datang ke Malaysia… negeri yang ada kesenian barongan, wayang kulit, tempe, soto, lontong, pecel, mee bandung – di Indonesia sendiri enggak ada, sirap bandung – adalah Johor.

    Walaupun di Selangor ada orang Jawa tapi kesenian ini tidak ada. Jangan cari di negeri lain – enggak ada. Di Kelantan dan Terengganu ada wayang kulit tapi enggak pake bahasa Jawa.

    Kesenian ini hanya di praktikkan oleh orang Jawa di Johor sahaja…..orang Melayu di negeri lain tak pernah tahu atau faham kesenian ini. Ini bukan difusi – tapi boyongan budaya ia dibawa oleh leluhur keturunan Jawa yang ada sekarang seperti orang Jawa di Suriname, Belanda, New Caledonia.

    Harus dipertanyakan bagaimana barongan bisa ada di Malaysia. Sejak kapan. Mungkin juga usianya lebih tua dari kalian.


Tinggalkan Balasan