Desember 4, 2007...3:45 pm

Katanya karena Saya…

Lompat ke Komentar

photo-39.jpgHari ini saya dan teman-teman berdiskusi tentang berbagai gerakan keagamaan, salah satunya adalah gerakan modernisme. Kemudian merambat ke issue gender. Akhirnya diskusi ini mengarah kepada topik tentang poligami. Alasan yang di lontarkan oleh teman saya adalah (menurut dia) fakta bahwa jumlah perempuan lebih banyak daripada laki-laki didunia ini.

Saya menanyakan datanya mana dan darimana asalnya. Kalau ini hanya dengar-dengar dari ‘para ahli’ (yang teman saya ini tidak bisa menyebutkan namanya) atau pernah dengar, buat saya argumennya belum kuat. Lebih jauh yang dikatakan perempuan itu adalah perepuan berusia 0 sampai tak terhingga, artinya dari bayi sampai dengan nenek-nenek. Padahal aturan yang dianut oleh banyak masyarakat pada masa sekarang, pernikahan biasanya boleh dilakukan sah secara hukum oleh manusia usia produktif dan anak-anak di banyak masyarakat sangat tidak dianjurkan untuk menikah. Jadi saya bilang sambil bercanda, teman saya boleh saja kalau mau menikahi nenek-nenek, asal jangan anak-anak.

Selanjutnya teman saya berargumen bahwa poligami dilakukan untuk menolong perempuan juga, yaitu para janda. Sebuah argumen yang sudah sering saya dengar. Saya bertanya mengapa untuk menolong para janda maka seorang laki-laki harus menikahinya, dengan berpoligami lagi? Di kampung orang tua saya, para janda baik yang muda atau yang tua sama-sama di bantu secara finansial (seperti beasiswa untuk anak-anak para janda ini, belajar di taman pendidikan Al-Quran secara gratis, termasuk memberi pekerjaan kepada para janda ini) oleh para tetangga; baik para istri maupun suami; yang mempunyai penghasilan lebih baik. Memang kebanyakan dari para ‘dermawan’ ini adalah para Haji dan Hajjah yang umur dan pendapatannya sudah mapan.

Tiba-tiba teman saya ini bertanya apakah jika suami saya ingin mengawini seorang janda untuk menolongnya saya mau di poligami? Saya jawab tidak, saya akan memilih bercerai jika suami saya benar-benar ingin mengawini perempuan lain.

Teman saya langsung mengatakan: kalau begitu kamu menciptakan 1 janda lagi?

Saya….??????

Mengapa bukan suami saya yang menciptakan 1 janda itu?

Saya masih nyengir bingung: saya?

Katanya: Loh kan suamimu tidak ingin menceraikan kamu. Dia tetap ingin kamu menjadi istrinya. Kamu yang minta cerai karena tidak mau di poligami.

Saya tetap bingung…..

Lalu saya mengatakan bahwa saya tidak mau di poligami, saya juga tidak mau mempoliandri suami saya. Jika karena satu dan lain hal kejadian saya menjadi janda saya juga tidak mau mengganggu pacar perempuan lain, lebih-lebih suami perempuan lain. Menurut saya ini fair. Lebih lanjut saya ingin mandiri sehingga orang tidak perlu melihat saya sebagai janda yang menyedihkan sehingga patut dikasihani dan patut di tolong dengan cara dikawini oleh pacar atau suami perempuan lain. Selain itu, saya berusaha juga menghindari menyebarkan kebencian. Karena dengan ‘mengganggu’ hubungan atau rumah tangga orang lain, bukan hanya pasangan itu saja yang terluka, tetapi bisa jadi termasuk keluarga dan keluarga besarnya: anak-anak, orang tua, mertua, dan saudara-saudara dari pasangan yang diganggu hubungannya tersebut.

Saya ingin sekali para perempuan tidak saling menindas. Saya hanya bisa memulainya dari diri saya sendiri.

Gambar kartu pos: Mulia, Siti Musdah, (2004) Islam Menggungat Poligami, Jakarta: Gramedia.

6 Komentar


Tinggalkan Balasan