Februari 12, 2008...9:11 pm

Bingung nih…

Lompat ke Komentar

foto-smansa.jpgBeberapa minggu yang lalu, beberapa teman saya mendiskusikan tentang pendidikan untuk anaknya. Ibu-ibu muda ini mengaku cukup bingung karena banyaknya pilihan yang ditawarkan . Kata teman saya jaman dia dulu sekolah pilihannya adalah sekolah swasta dan negeri. Keduanya menggunakan kurikulum nasional. Kalau saat ini, pilihannya bisa macam-macam, termasuk sekolah yang mengacu ke kurikulum pendidikan dari negara lain seperti Australia, Singapura, Jerman, Amerika, dan entah negara mana lagi.

Kata teman saya: “Bingung nih, abis bedanya jauh antara sekolah dengan kurikulum nasional dan yang make kurikulum luar negri!”

Saya tidak tahu maksudnya, karena sepengetahuan saya setahun yang lalu teman-teman saya orang Jerman juga mengeluhkan kurikulum pendidikan nasionalnya. Malah, sistem untuk pendidikan tinggi (Univesitas), dari S1-S3 nya sedang di rombak besar-besaran.

Demikian pula di Amerika saat ini, sistem pendidikan nasional tidak jarang menjadi isu, dari waktu ke waktu dianggap kurang dan diharapkan untuk di perbaiki oleh pemerintah.

Teman lain mengungkapkan alasan mengapa dia menyekolahkan anaknya di SD dengan kurikulum Australia. Dia ingin jika besar nanti anaknya akan masuk ke perguruan tinggi di Australia.

Saya menggaruk kepala saya. Beberapa teman saya lulusan SD negeri ternyata sukses juga meneruskan sekolah di universitas yang cukup baik di Australia, Inggris, Amerika, dan Jerman. Selain itu saya jadi berfikir, itu baru rencana untuk beberapa tahun yang akan datang, sedangkan saat ini anak tersebut sebenarnya harus berhadapan dengan kenyataan hidup di Indonesia yang tentunya berbeda dengan negara lain. Menurut pendapat pribadi saya, anak usia sekolah dasar alangkah baiknya untuk belajar tentang lingkungan sekitarnya dimana dia sekarang hidup, belajar, mengenal, memahami lingkungan sekitar. Alangkah tidak nyamannya jika anak tersebut merasa asing dengan masyarakatnya sendiri tempat dia berada.

Keasingan ini dialami oleh keponakan saya. Pernah suatu kali dia belajar bersama saya untuk menghadapi ujian kenaikan kelas. Pelajarannya adalah seperti PMP pada jaman saya dulu. Disitu dia disuruh menyebutkan sikap yang baik jika ada teman merayakan hari raya agamanya. Saya mengatakan berdasarkan pengalaman kamu saja biar mudah. Dia menjawab: “Bibi, saya tidak punya teman yang berbeda agama..”
Kaget juga saya mendengarnya, dan memang dia benar. Disekolah semuanya beragama sama, di rumah dia tidak pernah bergaul dengan anak sebayanya di kampung belakang rumahnya. Pulang sekolah jam 2 atau jam 4 sore. Sudah terlihat capek sekali. Selanjutnya dia akan tidur siang atau les jika ada jadwal les.

Saya jadi teringat juga bahwa teman-temannya juga berada di tingkat status sosial yang kurang lebih sama. Pernah dia liburan di Jakarta dan diajak ke Mall oleh adik saya dengan cara naik angkot. Komentarnya?: “Om, aku baru pertama kali ini naik angkot…”dan “Aku tuh sebenernya malu naik angkot om….”. Lah, gaya amat kamu, bibimu dan om-mu ini kemana-mana naik angkot!

Kembali ke masalah sekolah tadi, kata teman saya yang pernah belajar tentang pendidikan dan kurikulum sekolah, kurikulum sekolah suatu negara pada umumnya dibuat sesuai dengan kebutuhan masing-masing negara. Tidak terbayang bagi saya jika saya tinggal di Amerika, kemudian saya ngotot memberi anak saya pendidikan berbasis kurikulum Indonesia, dengan alasan agar dia sudah siap masuk sekolah di Indonesia jika pulang nanti, padahal saat ini dia harus hidup di masyakat dan bersosialisasi dengan teman-teman Amerikanya. Apakah dia tidak merasa ter-alienasi dari lingkungannya? Saya yakin dia akan beradaptasi dengan Indonesia jika dia memang harus tinggal di Indonesia nantinya asalkan dia diajarkan untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya, dimanapun dia berada.

Saya jadi ingat Barack Obama. Dia pernah sekolah di SDN 04 Jakarta (atau di SDN 01 Besuki?) , lulus dari Columbia dan Harvard Law school, dan sekarang menjadi kandidat presiden Amerika…

Sekolah dimana saja sebenarnya baik. Kata teman saya, hati-hati jangan termakan oleh promosi karena pendidikan saat ini menjadi komoditas yang dipasarkan secara gencar. Lebih lanjut dia mengatakan bahwa beberapa orang tua seperti dia yang super sibuk dan hanya mempunyai waktu yang sangat terbatas untuk bersama anaknya mempunyai kecenderungan untuk menggantikan “rasa bersalahnya” karena tidak mempunyai waktu yang cukup untuk menemani anaknya belajar dengan mencarikan sekolah yang mahal dengan berbagai fasilitas yang beragam, karena inilah yang dianggap…..terbaik.

Sayangnya yang mahal tidak selalu yang terbaik….

Gambar kartu pos: Gedung SMA negeri 1 Smg, dipinjam dari sini.

12 Komentar

  • pantesan saya kek prnh lht foto gedung SMA itu trnyata smansa semarang toh…

    pilih sekolah yg adaptif, negeri ato swasta sama saja sebenernya. cman klo saya pribadi berniat menyekolahkan anak saya kelak di sekolah katolik, alesannya mereka punya disiplin yg bagus, tetapi untuk agar dapat berkembang dlm situasi yg majemuk, sekolah negeri adalah pilihan yg tepat.

    tp omong2 kapan saya punya anak yah bi? :D

  • setuju bi **kenalan dulu**
    pendidikan itu tanggung jawab orang tua, dengan menyekolahkan ke sekolah paling mahal bukan berarti tugas mendidik anak langsung hilang dari orang tua :D

  • aaah, jadi inget (dan bingung) lagi, taun ini precil saya masuk SMP, dan saya blm tau mau masukin ke smp mana. bingung :(

  • Buat saya, sekolah yang bagus itu yang nggak bikin murid jadi seragam.. ya pola pikirnya, ya perilakunya, ya kemampuannya. Sekolah yang bisa menggali potensi si anak, karena tiap anak punya kelebihan yang berbeda-beda. Nggak boleh dibedain, bahwa anak yang mampu di bidang sains lebih hebat dari anak yang menguasai seni, misalnya.

    tapi, sekarang ini, sekolah yang bisa mengakomodasi hal di atas itu masih mahal (eh, mahal itu relatif ya bi…)

    btw, pa kabarnya bi? kapan anggota keluarga barunya lahir?

  • lhaa.. gimana yah.. sayah ituh ngerasain sendiri perbedaan kualitas sekolah yang memang menyediakan banyak fasilitas (dan ujung2nya bayar duit bengkak) dengan sekolah yang fasilitas dan pengajarnya seadanya..

    sayangnya, memang beda kualitas output hasil didikannya.. :(

  • namanya bibi suka pergi kesekolah . .
    rajin dan tidak suka membolos . . . :P

  • für aprikot: sayangnya saya gak bisa kasih anak…. :-)

    für iway: yoi…

    für venus: bingung juga mbak…. :-)

    für neng: iya. aku tertarik ama sekolah si mas & ghilman, kata sir bisa ngeliat kesana, tapi sampe sekarang belum sempet…. keburu lulus ya anaknya…. :-(

    für tikabanget: pada dasarnya saya setuju sekolah dimana saja itu baik, sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan anak dan orang tuanya…. masing-masing sekolah ada nilai plus dan minusnya.
    disini saya mempertanyakan 1. alasan beberapa orang yang saya kenal dalam memilihkan sekolah anaknya. untuk kepentingan si anak atau lebih kepada kepentingan orang tuanya (dengan alasan kepentingan anaknya tentu saja…)? 2. gencarnya berbagai lembaga pendidikan dalam memasarkan ‘produk’ nya (yang sangat beragam, dan membuat orang tua jadi bingung…..) 3. pendapat bahwa yang mahal dan atau berbau luar negeri itu selalu lebih bagus. dari informasi yang saya dapat beberapa lembaga/institusi pendidikan dari luar negeri yang diajak untuk berafiliasi dengan lembaga pendidikan di Indonesia tidak semuanya dikenal bagus mutunya. banyak yang terkecoh dengan embel-embel luar negeri…..

    für ebeSSe tito: eh anu ‘bes, saya itu nggak multi bakat seperti beberapa artis endonesah, bisanya ya cuma sekolah itu… :-) . kalo ke Salatiga saya di traktir pecel madya ya…..

  • kakak saya juga sedang mengalami kepusingan yang sama persis untuk anaknya. saya cuma nanya sedikit saja, “masa sih sesusah itu milih-milihnya?” langsung kena jewer. hehehe.

  • Sekolah di kota ndeso kayak Salatiga juga bisa ngajarin bule kan ya, mbak.

    Well, di sini masih banyak diskriminasi, tapi pluralisme itu juga pelajaran mahal ;)

  • sambil nunggu pulang “yang suka pergi”
    waa ibunya tito suka banget klo tulisannya gede2 gini . . .
    lha itu buat tikabanget kok panjang banget ya . . .
    saking kebangetannya murid ya bi . . . .
    itu penyanyi daerah dah tak posting lagi . . kali ini dari jepara, sama gagahnya ga ya ma aprikot . . ?
    itu pecel madya dah lama digusur, makanya rajin2 ke salatiga sebelum saya pensiun, nuwun!

  • @ bibi yang ndak pulang pulang :
    ah, sayah setujuh kalo ituh.. ^^
    embel embel sekolah luar negeri ituh seperti racun label baju mahal. yang harganya mahal emang blom tentu kualitas model dan kainnya lebih bagus dari yang murah ya… ^^

  • für fm: saya gak ikut-ikut komentar, takut kena jewer juga… :-)

    für tito: hahaha…. salatiga itu memberi pelajaran banyak, termasuk tentang pluralisme juga….

    für ebess: makasih info menariknya, kapan2 ttg grup2 dangdut salatiga & sekitarnya ya….
    lah, jgn pensiun dulu, saya baru pindahan lagi ini, belum tau kapan ke salatiga… :-(
    yang buat tika, wakakak… tika ampun… itu kata ebess….
    salam buat ibunya tito….

    für tika: iyah… (gaya tikah..eh tika)
    salam buat ibunya tito…


Tinggalkan Balasan