Maret 12, 2008...2:37 am

Frustasi

Lompat ke Komentar

Dokter yang menangani saya saat ini merasa frustasi karena saya tidak memiliki catatan medis yang memadai. Catatan medis memang merupakan arsip yang sangat membantu bagi para dokter untuk menganalisa pasiennya. Saya mengibaratkan mungkin seperti membuat esai tugas sekolah tanpa adanya buku atau jurnal yang memadai untuk dipergunakan. Seseorang yang terbiasa bekerja dengan fasilitas yang memadai memang terkadang merasa frustasi jika mendadak fasilitas tersebut dihilangkan.

Seorang radiolog yang saya kenal pernah menceritakan apa yang membuatnya frustasi. Dia menyeleseikan pendidikan dibidang medis di salah satu institusi yang cukup baik di salah satu negara yang seringkali disebut maju. Setelah itu dia kembali ke Indonesia dan bergelut dengan masalah-masalah pasiennya yang sebenarnya dia tahu ada jalan keluar yang lebih baik atau yang bisa menyelamatkan nyawa mereka, jika saja ada peralatan yang memadai, atau dana….

Saya membayangkan bagaimana dia menjadi frustasi dengan hal ini. Ilmu-ilmu yang dia kuasai tidak bisa dia terapkan untuk membantu pasiennya.

Saya termasuk orang yang tidak percaya pada ide generalisasi atau penarikan kesimpulan yang terlalu tergesa-gesa, seperti dokter-dokter di luar negeri mempunyai mutu yang lebih baik dari Indonesia. Luar negeri mana? Dokter yang mana? Pengalaman saya yang walau masih sangat terbatas menjadi bahan acuan saya.

Ketika berada di London, jari tangan saya pernah sakit. Dugaan saya waktu itu karena memotongnya terlalu pendek, kemudian terkena sabun dan air, dan menjadi luka. Saya pun datang ke Puskesmas dekat kampus, disana saya diminta untuk datang seminggu lagi untuk bertemu dengan ahli virus, karena dokter yang memeriksa saya menduga ini akibat terkena virus. Seminggu kemudian, dokter yang memeriksa saya kembali merujuk saya untuk menemui dokter ahli kulit….sebulan lagi, karena dokternya baru ada sebulan lagi. Karena tidak tahan, maka saya menelpon salah satu dokter di Indonesia yang saya kenal baik, menceritakan masalah saya, dan beliau kemudian menitipkan salep kepada teman saya agar disampaikan ke saya. Dengan salep itu, luka di jari saya sembuh dalam waktu seminggu.

Analisa yang kurang akurat juga pernah dialami beberapa orang yang saya kenal. Seorang teman saya di Jerman tiba-tiba harus menjalani operasi (by-pass) untuk menyelesaikan masalah di jantungnya. Padahal selama ini beliau secara rutin mendatangi dokternya untuk cek kesehatan. Lainnya, seorang kenalan teman baik saya di Inggris meninggal beberapa bulan setelah dinyatakan lolos dari kanker, karena kanker juga. Masih ada lagi beberapa cerita dari teman-teman “native” yang mengomentari tentang pengalaman tidak enak dengan dokter di negaranya sendiri.

Saya menemukan hal-hal yang baik dan tidak baik di beberapa tempat dimana saya pernah tinggal. Di Indonesia keuntungannya adalah saya mempunyai informasi dimana saya bisa menemukan dokter dengan keahlian yang baik atau bahkan sangat baik dibidangnya. Di Jerman saya mengenal seorang Indonesia yang menjadi kepala sebuah rumah sakit daerah disana. Mungkin ini dianggap biasa saja, tapi setahu saya tidak mudah untuk bisa mendapatkan posisi ini.

Meskipun demikian, saya tetap pihatin dengan kondisi para ahli kesehatan di Indonesia. Seorang profesor di bidang kedokteran pernah mengungkapkan keprihatinannya terhadap murid-murid yang diajarnya juga universitas-universitas yang berlomba-lomba membuka jurusan kedokteran karena dipandang menguntungkan. Beliau kecewa dan khawatir karena mutu yang cenderung jauh dari baik, dan para pengajar juga pengelola sekolah yang seakan menutup mata terhadap pentingnya seorang lulusan sekolah medis mempunyai keahlian yang memadai. Dengan kesal beliau menyatakan: bagaimana pasiennya bisa selamat kalau pelajaran dasar seperti anatomi saja tidak becus. Yang lebih memprihatinkan lagi jika orang tua mahasiswa ikut turun tangan dengan cara yang tidak terpuji agar anaknya dapat lulus menjadi dokter.

What a shame!

4 Komentar


Tinggalkan Balasan