Apa yang istimewa dari kata-kata diatas itu? Kelihatannya dua kata itu adalah sesuatu yang simpel. Siapa yang tidak sayang keluarga? Akan tetapi pada kenyataannya banyak kejadian yang mengindikasikan betapa menyayangi keluarga bukanlah hal yang sepele dan ternyata mudah sekali terabaikan.
Dua kasus dari Indonesia bisa saya jadikan contoh. Pertama kasus mengenai seorang ibu hamil di makasar yang meninggal karena diduga menderita gizi buruk (saya baca dari sini). Saya memilih untuk tidak ‘membaca’nya dan menghubungkannya dengan isu di tingkat makro: kegagalan pemerintah dalam menangani kemiskinan dan gizi buruk. Saya lebih memilih untuk mencermatinya dari lingkup yang lebih kecil: keluarga. Keluargalah yang mempunyai interaksi lebih banyak sehingga saya anggap lebih paham dengan keadaan si perempuan ini daripada dengan pegawai di dinas kesehatan.
Disini dikisahkan si suami yang seorang penarik becak tidak pernah tahu dengan apa yang selama ini dimakan oleh keluarganya. Si suami juga mengaku terkadang hanya bisa mendapatkan Rp. 10.000,- per hari dan itu dia gunakan untuk membeli ROKOK, sisanya diberikan ke istrinya. Selain itu, sebagai rasa penyesalannya si suami bertekad untuk tidak MINUM (mabuk) lagi. Membaca fakta ini, saya beranggapan bahwa si suami kurang memberi perhatian dan tidak sepenuhnya bertanggung jawab terhadap keluarganya. Kalau tahu sepuluh ribu itu sedikit, mengapa itu juga harus diapakai untuk mabuk dan merokok?
Kasus kedua seorang perempuan di Tangerang yang juga meninggal karena diduga tidak mempunyai uang untuk berobat (bisa dibaca di sini). Di kasus ini si suami yang kuli angkut tidak mengetahui bahwa istrinya menderita sakit. Dia juga tidak mengetahui pemerintah memiliki program untuk membantu orang tidak mampu, seperti program pangan dan kesehatan.
Ketidaktahuan, kurang informasi, ketidak sigapan aparat pemerintah bisa menjadi alternatif jawaban penyebab meninggalnya kedua perempuan ini. Tetapi bisa juga dilihat adanya kurang perhatian dari orang-orang terdekat kedua perempuan ini. Menikah, membentuk keluarga, memiliki anak bagi saya tidak bisa dianggap hal alami saja, sesuatu yang natural, memang sudah sewajarnya seperti itu. Ada sebuah tanggung jawab besar yang harus ditanggung oleh dua orang yang (seharusnya) dewasa, yaitu si istri dan suami. Masalah siapa yang menjadi ‘bread winner’ atau pencari nafkah dan siapa yang mengatur rumah tangga bisa saling tukar fungsi antara istri dan suami. Menurut saya akan lebih bijaksana untuk melihat ke diri sendiri dahulu, sudahkah saya bertanggung jawab terhadap keluarga saya, orang-orang yang seharusnya saya kasihi dan sayangi, sebelum menuding ke pihak lain seperti pemerintah. Kalau saya saja tidak tahu tentang kondisi keluarga saya, bagaimana bisa pihak lain seperti pemerintah (harus) tahu?
Pendapat ini bukan berarti mendukung pemerintah, dan juga masyarakat, bisa lepas tangan dalam menyelesaikan masalah kemiskinan. Kemiskinan bukan sesuatu yang simpel, yang bisa ditangani dalam sekejap juga dianalisa secara sembarangan. Terus terang saya tidak tahu apa resep manjur untuk menangani masalah ini. Lah, saya bukan ahlinya.
Apakah isu tentang menyayangi keluarga hanya milik orang miskin saja?
Ternyata tidak. Masyarakat dan media di Amerika mempunyai pendapat negatif terhadap politisinya yang dianggap tidak menyayangi keluarga. Tentu saja hal ini bisa saya dianggap sebagai komoditas politik dan media, tetapi saya mengangap bahwa nilai tentang keluarga yang harmonis ada di Amerika.
Satu contoh adalah ketika skandal seks Bill Clinton terkuak. Dia harus menunjukkan penyesalan dan permintaan maaf terhadap keluarganya, didepan publik. Kasus terbaru menimpa Gubernur New York, Eliot Spitzer, yang mengundurkan diri setelah diketahui bahwa dia memakai jasa pelacur (bisa di baca di sini). Dia juga mengungkapkan permintaan maafnya terhadap keluarganya di depan publik. Apapun alasan dia melakukan permintaan maafnya ini, tetapi hal ini bisa dibaca sebagai adanya sebuah nilai yang mengatakan bahwa yang dilakukan Spitzer (dan juga Clinton) terhadap keluarga (dan tentu saja istrinya) adalah sesuatu yang salah. Keluarga yang harmonis adalah salah satu hal yang masih dianggap sesuatu yang positif di Amerika. Kampanye para kandidat presiden Amerika seringkali merepresentasikan betapa hangatnya hubungan para kandidat ini dengan keluarga.
Keluarga, orang-orang terdekat yang kadang secara sadar atau tidak terabaikan oleh kita, karena terkadang kita anggap kita sudah memberikan sesuatu yang maksimal untuk mereka. Walaupun faktanya seringkali jauh dari itu. Keluarga juga seringkali kita anggap terdiri dari orang-orang yang ‘harus’ mengerti kita, kesulitan dan masalah kita tanpa kita perduli apakah kita sudah melakukan hal sebaliknya.
Jika bukan kita yang menyanyangi keluarga kita, siapa lagi?
7 Komentar
Maret 18, 2008 pukul 6:07 am
lho . .lho . . .lho . . lho . . . !
aku gak lho bi . . . . tenan . . . ya mek pisan thok ika..
Maret 18, 2008 pukul 6:10 am
lho . .lho . . lho . . .lho . .aku gak lho bi . . . !
tenan . . . . ya mek pisan thok ika . . .
April 2, 2008 pukul 3:29 am
Sisil dan Rizal, selamat untuk kelahiran Lintar Angestu Wijanarko Shidiq
April 2, 2008 pukul 3:31 am
Bu Sisil, Pak Rizal….
selamat atas kelahiran Lintar Angestu Wijanarko Shidiq, moga jadi anak yang sholeh dan membanggakan orangtuanya. Amin…
*selamat begadang
*
April 2, 2008 pukul 5:08 am
horey . . . . . akhire nduwe putu . . .
enggal dangan inggih bi . . . . . . !
kita sambut lembaran baru yang lebih cerah…
April 18, 2008 pukul 7:43 am
hiks hiks, ini aku banget. karena kakakku itu tak pernah ngomong apa-apa. jadi aku pikir semuanya baik-baik saja. ternyata … oh ternyata…
cara manjur berantas kemiskinan: penggal semua koruptor…
Juni 3, 2008 pukul 7:06 pm
für mbilung und neng: terima kasih pakdhe, budhe…
für ebess: inggih mbah, matur nuwun.
für kw: takutnya yang menggal koruptor jadi penguasa baru yang main penggal duit rakyat lagi….
.